Bismillahirrohmaanirrohiim .........
Aku tak tau
Apa yang kurasakan
Dalam hatiku saat pertama kali
Lihat dirimu, melihatmu
Seluruh tubuhku terpaku dan membisu
detak jantungku berdebar tak menentu
sepertinya aku, tak ingin berlalu
lirik
lagu ungu mengalur indah memenuhi bahasa tubuhku ketika kedua mata ini
menatap teduh dirimu yang telah ada di hadapanku setelah lima tahun
lamanya kita terpisah jarak dan waktu. Kini, atas ijinNYA kita menuai
rindu yang selama ini belum terpetik secara langsung. Ini bukanlah
pertemuan yang pertama kalinya dan senyumanmu tetap sama seperti lima
tahun yang lalu.
“Apa kabar?”
tak kusambut
uluran tanganmu, hanya seuntai senyum yang bisa kuberikan seraya
menganggukkan kepala. Tak ada kerutan kecewa di wajahmu, mencoba
mengerti prinsipku. Jika kau tau, dadaku sesak melakukan ini. Ingin
rasanya kurengkuh tanganmu , jatuh dalam pelukanmu tuk merasakan
hangatnya detak jantungmu seraya berkata “Sungguh aku merindukanmu dan
mencintaimu” namun tak kulakukan itu karena ombak keimananku bergemuruh
di lautan hatiku tak memberi kesempatan pada nafsu yang ingin berlayar
bebas.
“Pertemuan ini anugerah, jawaban atas munajahmu. Jangan kau kotori dengan kesemuan belaka,”
bisik
keimananku yang kini menyelimuti fikiranku untuk tetap ada pada
prinsipku. Aku terlanjur meletakkan awal dalam file kehidupanku sejak
lima tahun yang lalu dan sekarang aku bingung dari arah mana harus
kutulis akhir untuk kisah yang kubuat sendiri.
Dalam
karang persahabatan kita bertahan, namun karang itu akan rapuh jua
termakan oleh deburan ombak sikapmu yang terus mengikisku sedikit demi
sedikit. Sebagian batu karang itu telah berlayar mengikuti arus ombakmu
dan selebihnya bertahan menahan rasa yang membelenggu.
“Indahkan
pertemuan ini, dulu kalian terpisah jarak yang jauh. Sekarang kalian
telah berdekatan. Dekati dia, hanya dengan lima langkah kau bisa
merasakan aroma cintanya,”
“Jangan, jangan kau lakukan itu. Ingat semua ini bukan sekedar untukmu !”
“Lalu untuk siapa?”
“Untuk
DIA Sang Maha Pencipta. Karena DIA-lah yang mempertemukan kalian. Hanya
dengan tidak menyentuhnya yang bisa kau persembahkan untuk DIA,”
“Lalu?”
“Untuk
dia, jodoh yang ALLAH pilihkan buat kalian karena kenyataan belum
mengetahui dengan siapa hati kalian bertepuk. Jika kau turuti nafsu, itu
artinya dia yang ada di ujung sana juga sedang tak menjaga kesucian
cinta”
Aku menunduk ketika menjadi wadah hitam putih yang sedang bergelut.
“Percaya padaku, aku mencintaiMU, ALLAH” bisikku
*_*
“Sudah saatnya aku pergi,”
Aku
membisu tak berani mengeluarkan sepatah katapun. Tubuhku mematung
melihat kereta yang akan mengantarmu ke kota impian. Perpisahan selama
lima tahun hanya terbayar dengan hitungan jam yang menyatu dalam dua
hari. ALLAH yang mengatur pertemuan ini, tanpa rencana. Dia mengirimmu
untuk melakukan pelatihan di kotaku. Mungkin salah satu alasan penting
ALLAH agar kita bisa bertemu meski sejenak.
“Kau ini kenapa? takut merinduku?” godamu, aku hanya mencibir.
“Mungkinkah kelak akan bertemu lagi?”
“Tak perlu risau soal itu biarkan tangan ALLAH yang bekerja”
Aku
tersenyum kaupun tersenyum. Kedua mata kita beradu. Meski tak ada janji
yang kau lukis namun kumampu melihat indahnya pelangi di matamu yang
berucap “Aku ingin bertemu denganmu lagi”. Buliran air mata mulai
mendanau, sengaja kutahan agar tak menerjun.
“Pergilah,”
Lisanku berucap ikhlas melepas kepergianmu untuk yang kedua kalinya namun hatiku menjerit
...........
ijinkan aku tuk selalu menantimu
untuk katakan kuingin dirimu
Agar kau tau betapa kuterlalu mencintaimu
Aku akan menunggu hingga dirimu kembali untukku.......
***
NB : ahhh....jika turuti hawa nafsu, mungkin sudah kutunggu dirinya
berharap dia menjadi kekasih halal meski tak pernah ada kepastian, namun
aku berfikir ulang lagi...untuk apakah harus menunggu sebuah
kepastian???? lebih baek memohon kepada ALLAH untuk kepastian haLaL dan
ku yakin DIA akan mengirimkan seseorang untuk menjadi kekasih
haLaL-ku.....aamiin ***
Disaat hati mulai berani melepas sesuatu yang semu,
maka yakinlah disaat itu pula ALLAH menyediakan seseorang yang siap tuk dihalalkan dengan kita ^_^'
diambil dari catatan Halalkan Aku Ayah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar